Saat Kau Berkata, “Jangan Khawatir”

Kala aku hanya mampu sajikan kisah hidup yang getir sempurna, kau katakan, “Mari kita telan bersama. Kita nikmati pahitnya.” Bagaimana jika ternyata kau malah memuntahkannya. Apa enaknya menikmati pahit?

Kala aku membawa masalah tentang keluarga, kau berkata, “Kemarikan. Biar aku turut menanggungnya.” Yang aku takutkan, beban itu terlalu berat untuk kau pikul. Dan akhirnya kau berkata, “Berjalanlah terus. Tinggalkan aku disini. Aku sudah tak kuat lagi.”

Kala aku menawarkan kehinaan, kau berkata, “Jangan percaya pada asumsi semata. Prasangka mengajarkan pada dunia untuk menilaiku sebagai perempuan manja.” Memang benar adanya aku lelaki hina. Dan prasangka dan dunia juga mengetahuinya. Kemana lagi kau harus bertanya?

Kala aku memperlihatkan rapuhnya duniawiku, kau berkata, “Ada perempuan yang bersedia menerimanya. Kau lah orangnya.” Bagaimana kalau ternyata aku yang belum siap menerimanya. Kau adalah anugerah yang terlalu indah, bahkan hanya untuk aku imajikan.

Dan puncaknya saat kau bertanya, “Apalagi yang kau khawatirkan. Apakah tentang hidupmu yang pernuh persoalan?”

Kemudian kau berbisik, “Pria yang banyak masalah itu indah.”

Luluh lantak sudah semua sangkalanku. Dan kini saatnya aku maju dan berkata padamu, “Tunggu aku. Besok aku akan menemui orang tuamu.

PERPISAHAN

Seperti kebanyakan pertemuan dengan teman saya, Qahhar, pertemuan ini selalu sederhana namun mampu membuat saya berpikir dengan sudut pandang lain sebagai seorang manusia. Karena diakui atau tidak, banyak hal yang membedakan kami. Baik dari latar belakang sosial, keberadaan materi dan ekonomi, ataupun secara tampilan fisik.

Kemarin, tepatnya hari Minggu tertanggal 18 Oktober 2015, saya menumpang mobilnya untuk menghadiri pernikahan salah satu teman kami. Daerah Mantup, Lamongan. Rencananya akan ada dua orang teman kami yang akan bergabung namun pada akhirnya membatalkan untuk bergabung. Dan akhirnya hanya kami berdua yang menghadiri pernikahan teman kami tersebut. Continue reading

It is not about the money (2)

Dunia hari ini sedang dihebohkan oleh tulisan salah seorang Dosen Besar dan Pebisnis, Rhenald Kasali yang berceritakan tentang orang yang mencari “meaning” dan uang. [ Artikelnya dapat dilihat disini ]

Entah saya yang sudah terlanjur tersesat atau terlalu sarkas/sinis. Menurut pemahaman saya tentang artikel tersebut, masih saja ujung dari segalanya adalah uang dan seolah ditekankan seperti itu. Padahal untuk artikel “semanis” itu, tidak seharusnya disisipi permasalahan uang sebagai ujung pencarian kita didunia ini. Karena “meaning” di dalam hidup tidak melulu soal uang. Terlalu dangkal.

Continue reading

Suratku Untuk Kamu, Wahai Wanitaku Di Masa Depan (Part IV)

Untukmu wahai seseorang yang selalu hadir di setiap kesibukanku tanpa perlu undangan dariku,

Entah sudah berapa lama aku tak menyempatkan waktu untuk menuliskan kembali surat untukmu. Dan alasannya masih sama dengan kebanyakan manusia hari ini. Tak cukup waktu karena merasa 24 jam masih kurang. Bahkan waktu terasa sangat singkat saat aku di depan laptop. Memandangi pekerjaan dengan tatapan kosong.

Continue reading