Latest Entries »

CERITA TENTANG KOPI

Sebenarnya apa spesial dari minuman ini.Hitam pekat penampilannya.Sama sekali kurang menarik di mataku.Bukankah teh lebih menarik daripada kopi.Teh baunya mampu membuat kita lebih rileks.Mungkin istilahnya adalah relaksasi.Sementara kopi bertujuan agar kita tidak bisa tidur.Dan menurut kesehatan,hal itu jauh dari kata sehat.

Namun anehnya,dua novel menceritakan tentang kopi secara detail dan cantik.Dikarang pula oleh dua orang novelis kenamaan Indonesia.Dewi Lestari dengan novelnya Filosofi kopi dan Andrea Hirata dengan Cinta di dalam Gelas.Dan bahkan dalam novel tersebut diceritakan bahwa kopi bisa menunjukkan jabatan orang itu,karakter orang itu dan banyak hal lagi.Sebegitukah hebatnya kopi,sang minuman hitam pekat itu?

Satu yang menjadi tamparan bagi seorang pembenci ( kurang suka lebih tepatnya ) kopi,bahwa orang seperti aku yang tidak pernah atau kurang suka dengan minuman kopi adalah orang yang menyia-nyiakan hidup.Apa maksud kata-kata itu?

Benarkah aku salah satu orang yang menyia-nyiakan hidup ini dan termasuk salah satu juga orang yang merugi?

Apakah memang kopi sespesial itu?

Apa sebenarnya kelebihan kopi?


Dan pertanyaan itulah yang mengusik hidup sejak awal bulan kedua ini.Bulan Pebruari

Hujan di Sore itu

Seperti sore-sore di Bulan Desember,sore ini,sore di bulan Januari,hujan gerimis datang menghampiri.Dingin mulai menyelimuti.Pikiranku melayang kembali dan mengingat impian masa laluku.Sebuah mimpi anak kecil yang sempat terlupa karena lekang oleh gerusan jaman.

Aku ingin menjadi seorang pianis dan biolist.

Sebuah impian masa kecil yang begitu menggoda.Dan akan sangat sulit untuk diwujudkan.Impian yang terbentur karena pengaruh orang tua yang begitu besar.Dan adat yang memaksa untuk mematuhi orang tua. Orang tua menjadi sandungan yang cukup berarti karena mereka berasal dari dunia akademisi.Dunia yang sangat berseberangan dengan dunia seni.Dunia yang hanya menilai derajat dan martabat manusia di masyarakat berdasarkan nilai yang diperolehnya di sekolah.Bagiku pemain biola dan pemain piano adalah sebuah masterpiece dari Sang Kuasa.Tidak semua orang mampu menjadi seperti mereka.Penguasa panggung pagelaran yang paling berwibawa.

Pemain alat musik yang selalu akan jadi sorotan di setiap penampilannya.Mereka bisa sangat sombong tetapi memang itulah daya tariknya.Dan setiap gesekan dari dawai biola serta suara tuts piano seolah mempunyai kekuatan yang amat sangat.

Aku juga ingin menjadi seorang dokter lulusan Universitas Indonesia.

Sebuah mimpi yang hampir terwujud dan hanya karena benturan ekonomi,mimpi itu lepas.Bayangan tentang seorang mahasiswa yang berjalan dengan jas almamater kuning masih terus membayangi.Betapa Universitas itu mampu membuat aku berjuang keras untuk dapat masuk dan menjadi salah satu mahasiswanya.Dan setelah lulus,mengenakan pakaian putih-putih yang begitu mempesona dan betapa mulianya pekerjaan seorang dokter yang seolah menjadi jelmaan malaikat yang dikirim Tuhan untuk mengobati hamba-Nya yang kesakitan.

Dan adalagi sebuah mimpi.Mimpi untuk bisa masuk di jurusan Arsitek Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Dengan pensil dan sebuah imaji serta fantasi,aku bisa menggambarkan sebuah gedung istimewa di atas sebuah lembaran putih.Dan aku bisa menuangkan mimpi orang lain ke atas sebuah kertas.Dan kembali lagi,mimpi di depan mata yang hampir aku tangkap dengan tanganku lepas karena sebuah PENGHAPUS.Sebuah benda remeh itu menghapus mimpiku

Dan meskipun impian itu tidak pernah menjadi nyata,aku yakin Tuhan telah memilihkan tempat yang tepat untukku sekarang.Arsitek akan menjadi impian bagiku.

Dokter hanyalah sebuah cita-cita yang tertunda.

Dan pianis serta biolist hanyalah bunga tidur saat malam datang.

SIPIL.Disinilah dunia nyataku

 

Hujan terhenti.Fenomena alam itu juga yang menghentikan impianku.

Impian itu seolah terbawa bersama air hujan.Dan akan bermuara di laut.

Yahh.Mungkin di lautan penyesalan.Atau bahkan lautan kebahagiaan

Tuhan…

Semoga hujan seperti ini akan datang lagi.Dan aku berharap hujan yang akan datang juga mampu membawa impianku ini kembali.

 

Malam itu begitu meriah.Gema takbir mengagungkan Sang Maha Pencipta terdengar di seluruh penjuru dunia.Semua manusia bersuka cita menyambut hari kemenangan ini dan seolah menjadi sebuah ungkapan syukur tiada tara kepada Sang Maha Pencipta atas nikmat,karunia serta anugerah yang begitu besar.

Suara gema takbir kemenangan itu juga terdengar di sebuah mushola kecil di sebuah desa kecil dan terpencil.Itulah mushola dekat rumahku.Sebuah mushola dengan bangunan yang jauh jika dikatakan dengan layak.Namun itulah mushola dekat rumahku.Markas pertemuan dari para generasi penerus bangsa.Atau bahkan generasi yang mungkin akan merepotkan bangsa ini.

1

Markas.Mungkin aneh dan akan timbul pertanyaan.Sebutan markas kenapa saya sematkan pada mushola itu.Karena disanalah kami,aku dan teman-teman malamku serta teman lebaranku,para generasi penerus bangsa,,berkumpul untuk sekedar melepas kerinduan dan mengumandangkan takbir serta ungkapan syukur kami.Sudah bertahun-tahun bahkan belasan tahun mushola itu menemani kami bertumbuh.Ketika kecil,mushola itu menjadi tempat kami belajar mengaji dan ilmu agama.Ketika kami remaja,mushola itu menjadi pelarian dan pengaduan saat masalah datang mendera.

Dan ketika kami dewasa,mushola ini menjadi tempat kami menangis dan menengok kenangan ketika kami kecil dan bermimpi dengan indahnya.Namun banyak dari kami tidak dapat mewujudkan mimpi itu.Mimpi yang kami rajut sejak kecil.

Keadaan kami sekarang sudah jauh berbeda dengan impian indah kami.Aku menjadi manusia pengangguran berkedok mahasiswa yang semakin memberatkan beban pemerintah.Beberapa temanku menjadi buruh pabrik yang bekerja tiada henti siang dan malam.Beberapa bahkan hanya berlibur tepat saat libur lebaran saja.Seorang temanku ada pula yang menjadi seorang pemabuk kelas tinggi dan pembuat onar.Sang penjahat dari kampung.Seorang bahkan memutuskan menjadi seorang pemuas nafsu para pencari kenikmatan dunia.Seorang gay.Sekali lagi gay.Namun tidak semuanya menjadi manusia berguna.Beberapa orang menjadi pekerja kontraktor dan menghasilkan uang yang mampu dibanggakan.

Dan di malam kemenangan tahun ini,kami memutuskan kembali mengenang masa indah kami.Berkumpul dan menyaksikan indahnya bintang di langit saat malam kemenangan ini.Ikut serta mengumandangkan takbir yang agung.

Allahu Akbar,Allahu Akbar,Allahu Akbar

Dan biarkan gema takbir itu menggema di mushola ini.Menggema pula di hati kami.Mungkin hari ini kami tidak menjadi manusia yang baik menurutmu,Ya Allah.Itulah pilihan kami dan yang dapat kami lakukan saat ini.Namun esok,lusa,bulan depan atau tahun depan,kami tidak tahu akan jadi apa diri kami.Yang dapat kami lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk hari ini.

Terima kasih,Ya Allah.Engkau telah berikan aku mereka ke dalam kehidupanku.Aku yakin mereka adalah manusia pilihanmu yang Engkau berikan khusus dan terbaik untuk Kau berikan padaku.Meskipun mereka bukan yang terbaik untukku,aku masih yakin bahwa aku harus mengenal dan memahami mereka sebelum akhirnya Kau pertemukan aku dengan manusia yang benar-benar terbaik untukku.

Dan untuk kalian,teman-teman malamku dan teman lebaranku.Selamat Jalan.Aku akan merindukan kalian.Sampai jumpa tahun depan.Di saat yang sama namun pribadi yang berbeda.Ya.Saat Malam Kemenangan seperti ini.Malam dimana Takbir menggema di seantero dunia.

Sekali lagi.

TERIMA KASIH,YA ALLAH.

TERIMA KASIH,TEMAN-TEMAN MALAMKU DAN TEMAN LEBARANKU

Catatan ini saya tulis ketika pagi tadi saya melihat berita padi di sebuah stasiun televisi. Dan hanya ketakutan yang semakin membuat aku menulis sebuah catatan ini. Semoga hal ini tidak terulang untuk kedua kalinya.

Di sebuah daerah Jakarta, pagi itu diberitakan seorang bocah kecil bernama Basyir berusia 11 tahun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di tempat yang disebut markasnya. Markasnya hanyalah sebuah kotak kecil dengan dinding kayu dan beberapa mainan kotor dan lusuh yang sering menemaninya. Dan disitu terlihat sebuah pemandangan yang sangat jarang kita temui di waktu-waktu seperti sekarang ini. Sebuah kain dwiwarna berkibar dan melenggang dengan indah disana. Itulah bendera Negara kita, Bendera Merah Putih. Dan Sang Saka Merah Putih itu menjadi saksi bisu kejadian menyedihkan itu.

Ketika tahu apa yang menyebabkan sang bocah mengakhiri hidupnya, membuat aku sedikit miris. Dia mengakhiri hidupnya hanya karena tidak dapat meneruskan pendidikannya di Sekolah Dasar. Bunuh diri dan mengakhiri hidup memang perbuatan yang salah dan dari sisi manapun tidak akan bisa dibenarkan. Namun jika seorang anak sekecil itu mengakhiri hidupnya, siapakah yang patut disalahkan. Tidak mungkin kita menyalahkan anak kecil itu. Orang tuanya mungkin patut kita salahkan. Dan jika kita tahu keadaan orang tuanya, kita tidak akan tega untuk menyalahkannya. Negarakah yang harus kita salahkan. Selalu kambing hitam dari setiap masalah yang dihadapi. Betapa tidak dewasanya kita jika memang kita menyalahkan Negara kita yang sudah dan semakin porak poranda ini. Seharusnya kita bisa berkaca dari diri kita sendiri. Sudahkah kita memperhatikan Negara kita, orang-orang sekitar kita dan juga adik-adik kita.

Saat memasang Bendera Merah Putih di markasnya, Sang bocah ingin berkata bahwa cukup hanya dirinya yang mengalami nasib seperti ini. Tidak perlu ada lagi Basyir-Basyir yang lain di Negara ini. Dan dia ingin mengucapkan salam terakhir dan hormatnya kepada Sang Saka Merah Putih. Sang Bocah ingin meninggalkan bumi pertiwi ini dengan selimut birunya langit Indonesia dan dibawah kibaran serta kemilau warna Sang Dwi Warna. Dan berharap Bumi Pertiwi menerima dirinya.Dan pemandangan seperti inilah yang tampak di markasnya itu

Terkutuklah bagi aku atau kita atau siapapun yang sudah diberikan anugerah dan karunia yang sangat berharga oleh Sang Maha Kuasa untuk bisa menikmati dan mengenyam pendidikan bahkan sampai ke tingkat tertinggi jenjang pendidikan namun tanpa adanya keseriusan dan menyiakannya.

SELAMAT TINGGAL,BASYIR.

Manado (ANTARA News) – Kenaikan harga minyak goreng yang terjadi dalambeberapa pekan terakhir ini sulit dihindarkan, karena merupakan dampak harga di pasar internasional yang menunjukkan kecenderungan meningkat. 

Cilacap (ANTARA) – Setelah sekian lama tak dihantui perasaan takut oleh maraknya aksi peledakan bom oleh para teroris, kini masyarakat justru dikejutkan dengan banyaknya ledakan tabung elpiji tiga kilogram.

Jakarta (ANTARA News) – Mahasiswa Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menjadi juara pertama ‘Shell Eco-Marathon’ (SEM) Asia 2010 yang diadakan di Sepang, Malaysia.

Ini adalah beberapa kado yang telah diberikan untuk Ibu Pertiwi di Hari Ulang Tahunnya yang ke-65.Memang tidak semuanya bisa membanggakan.Karena memang seperti itulah kehidupan.Kadang menyenangkan,namun tidak menampik hadirnya kesedihan.Tapi diantara banyaknya kado yang telah diberikan masih saja banyak suara sumbang yang menggema di seluruh antero bumi persada ini.

Banyak manusia yang tidak bertanggung jawab mengatakan kita belum merdeka.Banyak anak cucu adam dari bumi pertiwi ini berkata bahwa kita masih terjajah.Bagaimana bisa mereka mengatakan hal itu.Jelas bahwa tanggal 17 Agustus 1945,Bung Karno membacakan teks proklamasi dengan gagahnya dan itu pertanda bahwa kita telah merdeka.Kita sudah bebas.Dan saatnya kita menikmati kebebasan dalam kemerdekaan ini.Merekalah yang sebenarnya terjajah.Terjajah oleh pikiran yang yang sempit dan seolah kesalahan tidak pernah datang dari dirinya.

Masih banyak pula beberapa orang yang dengan lantang mengatakan bahwa untuk maju,Indonesia butuh sosok dan figur Bung Karno lagi.Bah…Apa yang mereka katakan.Indonesia tidak lagi butuh sosok Bung Karno.Yang dibutuhkan oleh Ibu Pertiwi ini adalah kita.kalian dan mereka.Seharusnya kitalah yang memajukan Bangsa ini.Bukan lagi Bung Karno.Biarkanlah Bung Karno beristirahat disana dengan tenang.Tanpa ada gangguan suara yang menginginkannya untuk hadir disini kembali.

Dan seperti kebiasaan kita selama ini,mengadakan ceremonial upacara bendera.Sebuah acara pengibaran bendera merah putih untuk mengenang detik-detik proklamasi.Namun masih saja ada yang berkontroversi dengan semua ini.Itu hanyalah sebuah ceremonial.Kita butuh tindakan nyata.Bah…( untuk yang kedua kalinya ).Mereka hanya pandai berbicara.Daripada tidak melakukan apapun,setidaknya aku lebih menghargai orang yang mau untuk sekedar berpanas-panas demi menghormati dan menyaksikan Bendera Merah Putih,Sang Saka itu berkibar di langit tertinggi Bumi Persada ini.

Cukuplah Ibu Pertiwi ini menangis karena ulah dan kata-kata manusia yang tidak bertanggung jawab.

Layaknya ibu-ibu lainnya,Ibu Pertiwi juga menginginkan anak-anaknya hidup bahagia dan berdampingan.Berguna untuk orang lain.Dan seperti ibu-ibu juga,Ibu Pertiwi tidak mengharapkan kado atau apapun dari anak-anaknya.

Tapi tidakkah kita ingin memberikannya sebuah kado.

Kado yang mampu membuat Sang Ibu Pertiwi kembali menangis.Namun kali ini akan menangis bahagia.

Kado itulah yang selalu ditunggu.Kado yang tertinggal untuk Negeriku,Indonesia.

Dan suatu saat,aku berharap akulah yang mampu memberikan kado itu.

DIRGAHAYU INDONESIA.

Selamat Hari Jadi yang ke-65.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.